Ketika Nalar Bertanya: Cerita yang Tak Perlu Lahir
Ketika Nalar Bertanya adalah cerita yang seharusnya tidak perlu lahir, bila bangsa ini memiliki semangat untuk merawat ingatan dan menolak lupa terhadap sejarah, termasuk luka kemanusiaan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
TEATER
Deandra Syarizka
9/4/20262 min read
"Sejarah adalah narasi pemenang..."
Aku awalnya tak begitu percaya pada kalimat tersebut, hingga mengalami dan menyaksikannya sendiri. Satu tahun yang lalu ketika menghadiri Aksi Kamisan, aku merasakan keresahan yang amat sangat terhadap upaya pemutihan sejarah yang mengecilkan dampak luka kemanusiaan dari perkosaan massal 98 terhadap perempuan.
Dari sanalah aku menyadari bahwa penulisan sejarah tak terlepas dari relasi kuasa. Setiap penyusunan narasi sejarah membawa konsekuensi pada peristiwa apa yang ditonjolkan dan dihilangkan? Sudut pandang siapa yang diprioritaskan? Di titik ini, sejarah bukan sekadar catatan pertiwa masa lalu, melainkan lebih dari itu, ia menjadi alat legitimasi kekuasaan.
Dari kesadaran itulah “Ketika Nalar Bertanya” lahir. Ketika Nalar Bertanya (KNB) adalah naskah pertama yang diproduksi secara mandiri oleh Salindia Teater. Naskah ini juga menjadi tonggak proyek kolaborasi yang menyatukan kekuatan Salindia Teater dan Bekarya Pertunjukan di industri teater Jakarta. Saya amat bersyukur atas kesempatan besar ini, khususnya kepada Nadine Nadilla selaku sutradara dan menjadi pihak yang paling awal percaya pada naskah ini, juga kepada Seno Gumira Ajidarma yang telah mengizinkan kami mengadaptasi cerpen “Clara” sebagai titik berangkat KNB.
Bagiku pribadi, KNB juga menjadi proyek penulisan kolaboratif pertama bersama Muhamad Habib Koesnady. Kami menghabiskan sekitar enam bulan untuk menulis naskah KNB ini hingga sampai di panggung pertunjukan. Kami meyakini teater sebagai seni yang memiliki kekuatan untuk menggugah, menggerakkan, sekaligus merawat ingatan.
KNB lahir bukan untuk mengorek luka lama atau mengkomodifikasi trauma, tetapi lebih dari itu, kami berharap cerita ini dapat menjadi wadah untuk bersama merawat ingatan. Sebagai kelompok yang terus bertumbuh, kami menyadari niat baik itu perlu disertai dengan craftmanship yang baik pula.
Oleh karena itu, kami melibatkan banyak pihak seperti LBH APIK Jakarta, Yayasan Pulih, pengamat teater seperti Joned Suryatmoko, Hidayat Adiningrat, Suwarni Waskito, Edy Susanto, agar memastikan pertunjukan ini tidak menghadirkan secondary trauma bagi penonton. Kami amat berterima kasih untuk segala masukan dan kontribusinya.
Dalam proses kreatifnya, KNB menjadi gerbang awal bagi banyak teman-teman yang terlibat dalam produksi untuk mengenal lebih jauh mengenai sejarah Mei 1998. Banyak dari mereka yang belum lahir ketika peristiwa itu terjadi, dan dari cerita inilah kami bersama-sama memaknai sejarah lewat cerita yang humanis.
Apresiasi yang mendalam untuk semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan cerita ini hingga dapat menjumpai penonton. Semoga kita tak pernah lelah mencintai negeri ini dengan merawat ingatan, menjaga nalar, dan menolak untuk diam.
Tabik,
Izka

